A heritage message for my twin sons grand childrens. * Fort Rotterdam Makassar

Rabu, Juli 28, 2010

pintu gerbang fort rotterdam

Week end kemarin jalan-jalan  keliling kota. kalau tas perlengkapan kamera sudah ikut di mobil artinya jalan-jalan plus motret. Aku dan dia suka motret bangunan-bangunan tua yang sarat nilai historis  dan seni, area suburban, jalan, stasiun pete-pete, rumah sakit, sekolah, termasuk rumah tradisional, rumah artdeco, keragaman arsitektural china town , tempat  makanan khas makassar dan selalu ada hal unik yang kita jumpai dijalan. 
 Sebelum semuanya berganti wujud menjadi bangunan modern berarsitektur artifisial.


Kali ini Fort Rotterdam, benteng yang dijadikan the Cultural Centre Of South Sulawesi pada 27 April 1997 ini, sebentar lagi akan menyusul pendahulunya, bangunan-bangunan vintage yang dengan berbagai alasan klise telah di retouch modern sehingga berubah fungsi sesuai kepentingan pemilik modal dan berwajah pertokoan.

Tadinya si kembar farchan n fachri kurang minat ke benteng. Katanya : “mama sama papa saja yang kesana, kita kan sudah pernah  dulu di acara sekolah“. Maunya ke tempat-tempat hip seperti mall, makan, nonton, game station, ke toko cari dvc cd vcd, tapi itu bisa next time kan ya…..



Awalnya berjalan  terpisah, tidak tertarik sekeliling dan lebih sering : “papaaa……,ayo maaa” masing-masing bergantian memanggil dari kejauhan sambil berpose. Dengan senang hati nak,…ada rupa, ada suasana, ada yang motret. Papanya mendekat :
“pintar kamu Far milih background, nanti gantian ya papa juga mau. Tau kenapa tembok batu ini tebalnya 7 meter?”......
“Namanya juga benteng , ya buat pertahanan to. Satu kali lagi Pa dari arah sini, keliatan tiangnya ya Pa”.
“Oke, tau kamu kenapa tembok batu ini berlubang-lubang?”……Fachri, pasang tripot disini…..
“Ya karna sudah tua……korosilah, kan depan laut Papaaa…”
“Perhatikan nak, ini lubang-lubang bekas peluru, dulunya………disebelah atas sana dulunya tempat……. …….di bagian ujung atas bangunan sebelah sana dulunya ada……
Lalu mereka  tidak lagi berjalan  berjauhan, mulai bertanya, berhenti dan mengintip depan lorong-lorong panjang dan jendela-jendela berjeruji, memandang lama depan pintu-pintu, mendengarkan gema suara mereka sendiri, dan mulai memotret sana sini.

suasana dibagian dalam fort rotterdam
bukaan berjeruji bekas penjara

Kemudian kita sampai diatas puing-puing reruntuhan…..cuaca cerah dan what a view ……laut dan gugusan pulau sejauh-jauh mata memandang. kita tidak sendirian, banyak pengunjung dari bangsa asing dan bangsa sendiri, orang tua dan anak-anaknya seperti kita, kelompok sastra, kelompok fotografer dan anak-anak muda yang sekedar menikmati sore.

suasana kompleks fort rotterdam dilihat dari atas reruntuhan


“Sini fachri, berdiri disebelah sini…. dulu di depan situ  ada popsa pusat olah raga air, pangkalan kapal pribadi dan ada gazebo yg dihubungkan jembatan kayu yang menjorok ke tengah laut. Makanya kafe besar dibawah itu diberi nama Warung Popsa. Mama pulang kuliah dulu suka duduk-duduk digazebo  bergabung dengan papa dan teman-temannya yang ber wind surving. Kata Papa, mereka sering seharian dipulau yang diujung situ, memancing dan makan ikan bakar”……
“farchan,  ganti lensanya……”
“Disebelah jalan kanan ujung  , ada deretan bangunan artdeco yang elegan. Tapi sekarang tidak terurus, bahkan sebagian sudah berganti menjadi bangunan modern”
“Disebelah kanan bawah ada RRI, bangunan tua yang juga sedang menanti kematiannya. Disebelahnya juga pernah ada bangunan art deco dengan bukaan-bukaan lengkung dan bidang horizontal yang juga sudah menjadi masa lalu”.
“Ayo nak, abadikan semua yang sedang bersiap meninggalkan masa lalunya dan  jadilah saksi sejarah keindahan kota ini. Agar kota ini diperperlakukan dengan cinta kasih dan semangat pelestarian ketika nanti kota ini diwariskan kepada kalian”.
“Nantinya nak, ketika kita sudah sudah tidak bersama lagi, cucu-cucu kalian akan menyaksikan keindahan historis dan arsitektural kota ini melalui file-file yang kita dokumentasikan sekarang. Mama dan Papa tidak ingin mereka mengetahui keindahan dan sejarah kota ini hanya melalui cerita dan buku-buku tua berdebu di perpustakaan yang tak terurus”.

have fun with Mkuidos


detail pintu gerbang

Tour de Fort Rotterdam sore itu disudahi di image terakhir:  main gate lengkung  dengan pintu kayu hitam berbukaan ganda  dengan aksen tonjolan disekujur pintu. Terasa diudara ada benang merah yang menghubungkannya ke pintu  klenteng jauh diujung kanan…..

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe