Artisan French Bakery and Pastry Di Monsieur Spoon Ubud.

Jumat, November 04, 2016


This was it!
Tercetus begitu saja saat Rafi Papazian seorang chef otodidak sukses asal Perancis pertama kali menginjakkan kaki di Bali. Suasana magis, spiritual dengan alamnya yang indah, orang-orang yang menyenangkan dan berjiwa kreatif seperti dirinya menjadi daya tarik utama untuk memutuskan menetap dan mewujudkan impiannya memiliki toko bakery and pastry.

It was just a kitchen!
Dari sebuah ruang sewa kecil di Umalas, perlahan kue ulang tahun dan cake perkawinan yang dibuatnya mendapat respon positif dan terjual habis, dan segera menyusul kemudian chocolatines dan apple chausons yang juga menjadi favorit, serta all buttery croissantsnya  menjadi best seller se Bali.
Dan Monsieur Spoon Ubud tempat iMom dan om brewok melemaskan kaki setelah menjelajah sudut kafe-kafe cantik yang bersusun menurun mengikuti tebing sawah berundak Tegalalang yang eksotis ini, adalah Artisan French Bakery and Pastry nya yang ke empat! 
Sekaligus tempat kelima must visit yang iMom susun dalam itinerary jokka-jokka ke Bali.

Bangunan yang beberapa anak tangga lebih tinggi dari jalan ini adalah sebuah kafe mungil yang di fasade eye catching. Dua payung Bali merah mengapit tangga entrance serta tanaman menjalar yang menjadi atap sekaligus dinding penahan matahari. Small but chic!  


interior style
Kesan  homey langsung terasa saat iMom dan om brewok memasuki indoor kafe. Perasaan adem dari finishing lantai dan dinding semen, pilihan cat warna abu-abu di sebagian dinding, dan langit-langit tinggi plafon kayu yang di cat warna putih dan dilayer kotak-kotak kayu dibagian terluarnya.





Kesan menyejukkan tetap terjaga dengan pilihan finishing natural kayu yang tone nya dijaga tetap senada pada kursi-kursi yang di layout di sepanjang dinding garis denah, serta aksen kaca dan besi hitam pada rak display roti dan pastries yang diberi aksen garis-garis diagonal di bagian ujung luarnya.

Di area belakang kafe ada teras beratap transparan yang ditumbuhi tanaman menjalar sampai ke dinding dan di beri aksen dua payung putih sebagai kesatuan tema desain dari teras depan.  Di teras outdoor ini ada beberapa  meja dan bangku memanjang yang dilengkapi outdoor grilling. Area ini biasa dipakai sebagai tempat menikmati brunch dan gathering lunch.



detail interior
Sendok kayu dalam beberapa variasi ukuran ini menjadi detail manis yang diaplikasikan pada backdrop display di ruang penerima, plafon, dan pada pegangan pintu sebagai aksen yang memperkuat tema kreatif artisan lokal yang kental tersirat pada kafe beratmosfir rileks dan kasual ini.



   
menu
Banyak pilihan menu sehat yang ditawarkan mulai dari menu breakfast, brunch dan lunch, dengan pilihan bahan-bahan berkualitas, sehat dan fresh.
Pecinta fresh pastry, homemade chocolate, crepe! viennoiseries, bread, dan healthy food menu, seperti iMom laah, jelas termanjakankan lidahnya dengan menu-menu yang ada.




iMom tentu sulit menentukan pilihan dan bingung-bingung  senang depan etalase dan depan list menunya, antara pengen cobain grand breakfast, salad, pastry atau croissantnya yang buttery menggugah selera. 
Juga bingung mau pilih duduk di area mana. Kepengen duduk di area outdoor tapi karena matahari masih terik dan kami masih penat setelah naik turun tebing Tegalalang yang cantik itu jadinya kami memilih duduk di area indoor saja. Itupun dua kali pindah karena kepengen merapat ke teras depannya yang eye catching itu. See...


Di setiap meja ada botol besar berisi sendok, garpu, pisau dan tisu. Juga toples berisi brown sugar. Detail dan penuh rasa.
 

Karena masih kenyang tadi sebelum ke Ubud kami mampir makan di Tuban, jadi kami memilih ice cappucino, om brewok lagi gak pengen ngopi strong seperti biasanya, dan French Chocolate cake low sugar dan gluten free untuk berdua. Maunya siih di tambah satu atau dua macaroon yang warnanya memikat mata itu tapi ya gitu deh sadar umur takut koles.

Cake enak sekali. 
Teksturnya lembut dan basah yang di bagian atasnya di taburi coklat dan coklatnya terasa pekat di setiap suapan. Penyajiannya juga artistik sekali ya, datang ke meja di atas wadah talenan yang di ukir nama kafe.  Kebayang gimana talenan di dapur iMom jika diberi ukiran nama seperti ini yaa yang ada malah bukannya semakin rajin masak malah jadi semakin malas karena sayang talenannya dibikin kotor. hehehehe....

Jadilah siang jelang sore itu iMom dan om brewok duduk santai melepas penat dan dahaga sambil menikmati atmosfir homey di kafe cantik mungi ini.
Pramusajinya yang ramah dan cekatan, serta beberapa pengunjung bule yang datang membeli beberapa roti, bincang akrab dengan staf kafe, menggambarkan suasana lokal Ubud yang kental dengan rasa akrab, kasual dan multi kultural yang bikin betah untuk duduk berlama-lama, tapi tentu tidak.

Karena kami harus bergegas ke Kerobokan untuk mendatangi beberapa tempat lagi,  om brewok tidak ingin ketinggalan sore dan sunset yang katanya sudah sebaiknyalaah jika dinikmati di area pantai. Setuju.
Dan tentu belum seru meninggalkan kafe small and chic! ini tanpa membawa pulang buttery Croissant dan Raisin Danish yang di bungkus kertas dan dimasukkan dalam tas kantong kertas. Biasalaah kaan untuk bekal cemilan setelah 'acara tengah malam' nanti di hotel. Psssttt.... namanya juga lagi honeymoon ala-ala. :)

Semoga pengalaman menikmati pastries enak ini menjadi referensi untuk yang akan mengunjungi Ubud. 
Baca juga Menikmati Sarapan di Livingstone Cafe And Bakerty petitenget Bali.
Atau mungkin punya juga referensi kafe yang lain? Silahkan share disini ya.

Berikutnya iMom akan share tempat-tempat menarik lainnya yang ada dalam itinerary jokka-jokka Bali minggu kemaren , salah satunya sebuah kafe outdoor yang simple dan kasual di Petitenget yang bikin om brewok pengen punya juga untuk di Makassar. Keren nih buat ngopi dan akustikan, katanya.


You Might Also Like

2 komentar

  1. Hhhm chocolate cake nya tampak lembut. Btw interiornya dominan kayu2an, unik juga ya.

    BalasHapus
  2. Iya, enak dan sehat. Dinikmati dintara interior yang ditata artistik.

    BalasHapus

Subscribe