Seperti Apa Desain Venue Ubud Village Jazz Festival 2017 ?

Kamis, September 07, 2017


Artistik sekali!
Itu kesan pertama yang melintas dibenak begitu iMom dan om brewok memasuki venue Ubud Village Jazz Festifal 2017. 
Kepenatan mengemudi dan GPS Map yang naik turun bikin berasa tua di jalan jadi terasa tak berjejak begitu menapak di venue nan cantik ini. 

iMom dan Om Brewok ke Bali ini selain untuk nonton UVJF yang sudah lama diagendakan om Brewok, juga untuk acara reuni kantor kami masing-masing yang dibuat menyesuaikan tanggal dengan agenda nonton kami. Hehehe... supaya sekali mendayung bisa dua tiga acara terlampaui.
Sebenarnya mau mengajak The Brondongs Blues yang suka berasa pulang kampung ke rumah masa kecil mereka di Denpasar, juga sekalian nonton jazz untuk mengobati kangen mereka karena sudah dua tahun absen di panggung Makassar Jazz Festival, tapi yah gitu deh mereka harus segera mengakhiri liburan semester ini karena sudah di tunggu dengan agenda kampus di sana. 
Jadi selepas The Brondongs Blues balik ke Bandung, beberapa hari kemudian iMom dan Om Brewok packing dan yeay Bali lagi!


Ubud Village Jazz festival 2017


Uud Village Jazz Festival 2017 yang disebut sebagai salah satu festival jazz terbaik di Asia Tenggara. 
Tahun ini hadir dengan tema Beautiful Music For Beautiful Minds. 
Event tahunan yang ke lima kalinya ini menyuguhkan lineup yang lebih imajinatif dan eklektik dari beberapa jenis musik mainstream, moderen, tradisional dan musik Latin.
Musisi muda berbakat Gerald Clayton Trio menjadi highlight untuk tahun ini yang tampil bersama dengan musisi Joe Sanders ( bass ) dan Gregory Hutchinson ( drum ).





Suasana sore di Arma Museum jalan Raya Pengosekan tempat acara di helat.
Main gatenya di buat seperti gapura beratap rumbai dengan bukaan-bukaan loket juga bukaan sebagai satu-satunya jalan masuk ke area venue.
Di bagian entrance ini juga ada stand yang memajang produk UMKM lokal binaan Kementerian Koperasi Republik Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap Ubud Village Jazz festival.

Yang tidak biasanya justru parkirannya. 
Oleh pihak penyelenggara telah disediakan area parkir untuk pengunjung di dua titik yang buat iMom tidak dalam jarak berjalan kaki karena mesti naik motor.
Jadi kita diantar panitia untuk memarkir mobil di area lapangan belakang sekolahan yang masih di jalan Raya Pengosekan juga, lalu pulangnya kita masing-masing di bonceng motor oleh petugas. 
Waktu kita mau ke parkiran mobil saat acara selesai, kita dibonceng motor lagi oleh petugas yang memang selalu stand by berkumpul di area parkiran tamu dan depan Arma Museum. 

iMom baru sekali ini naik motor di Ubud. 
Jadi berasa seperti Elizabeth Gilbert nih, versi ala- ala, yang berbaur dengan penduduk lokal Ubud. 
Apalagi saat melewati area rumah dukun Ketut Liyer yang letaknya tidak jauh dari Arma Museum.
Waktu shooting film Eat Pray and Love juga iMom sedang di Tegalalang Ubud saat barisan puluhan mobil trailer parkir di sepanjang jalan.

Lanjut,


Ini lorong setelah cek kelengkapan tiket dan gelang tanda masuk di main entrance.
Unik ya, dindingnya ditutup tikar anyaman dengan beberapa frame  foto artis yang tidak terlalu besar juga up light lamp di beberapa titik  yang menciptakan efek dramatis utamanya di malam hari.
Kebersahajaan akses menuju venue ini memang seperti memberi pengalaman meruang yang berujung klimaks saat sampai depan venue.

Venue
Desain lay out venue di desain khusus oleh tim arsitek dari Archimetriz Design yang  menonjolkan atmosfir kearifan lokal desa Ubud yang masih natural, eksotis dan sedikit beraura mistis.
Area venue dibagi dua secara paralel.  Linear pertama tepat setelah main entrance sebagai jalur sirkulasi dimana berjejer tenda kuliner yang sebagian besar menjual makanan tidak halal, dan sponsorship serta merchandise acara yang di layout berhadapan di sebelah kanan dengan stage satu sebagai ending sirkulasi.
Yang jadi pertanyaan, iMom dan Om Brewok makan apa?











Di sebelah kiri ada stage dua yang area nontonnya dibuat menyatu dengan linear kedua yang diolah seperti inner courtyard sebagai area komunal dengan peletakan beberapa meja-meja tinggi untuk keperluan seperti ngobrol, makan dan minum juga  mengatur peralatan kamera dengan beberapa stand kuliner dibagian sudut.





Dalam arena venue juga banyak stool di atur pada sudut-sudut strategis dekat stage untuk ngobrol, makan dan nonton. Ada frame juga untuk yang mau selfie di Instagram.
Layout venue yang artistik mengcreate spot-spot berfoto di tiap sudut.


Venue yang kaya akan sentuhan kebersahajaan material natural ini menjadi  tercantik yang pernah iMom lihat diantara beberapa venue event jazz festival yang pernah di kunjungi.
So instagrammable.

Stage


Seperti di beberapa event jazz festival lainnya, peletakan stage di buat berbeda-beda agar pengunjung tidak bosan duduk dan diajak mengeksplore suasana sekitar.
Begitu juga peletakan tiga stage di Ubud Village Jazz festival ini yang diletakkan di titik yang berbeda. Yang ini stage satu.





Depan stage di atur deretan kursi besi style vintage berwarna aqua blue yang catnya sudah mengelupas disana-sini dengan beberapa tulisan dibelakang sandaran. Juga ada dek rendah tempat gelaran tikar anyaman dan bantal-bantal besar. So comfort.

yang ini stage dua,





Berbaur diantara penonton dari berbagai bangsa yang sangat ekspresif menikmati komposisi demi komposisi yang tersaji dari stage ke stage sebagai sarana penyaluran terapi jiwa yang begitu personal.
ada yang duduk berkelompok, lesehan dengan pasangan, ada juga yang berbaring hanyut dalam kesendirian.
Alam ubud yang senyap seakan berkedip oleh tata lampu  cantik di seluruh area venue.

Dan yang ini stage tiga yang letaknya  jauh ke dalam venue dan berada diantara rerimbunan. 
So eksotik.



Sayangnya tidak bisa berlama-lama di sekitar stage tiga karena gerimis yang mulai tebal tapi tidak berlangsung lama.

Dan, saatnya menjawab pertanyaan diatas tadi.
Karena mayoritas stand kuliner menjual menu yang tidak halal jadinya iMom dan Om Brewok menikmati apa sebagai makan malam?


Ini dia jawabannya. 
Nasi biryani dari stand kuliner yang menjual makanan India, satu-satunya stand dengan menu halal selain indomie dan popmie yang iMom lihat tidak disentuh oleh satupun pengunjung. Ini porsi kebanyakan untuk satu iMom makan sendiri karena Om Brewok dan kebanyakan pengunjung Muslim lebih memilih menu semacam roti Maryam yang rasanya buttery. Enak sekali.

Semakin malam suasana semakin romantis. 
Menonjolkan keindahan venue yang di penuhi dengan deretan lampu-lampu gantung dari anyaman bambu yang pendar cahayanya menguatkan kesan romantis, membuat semakin hanyut dan larut komposisi jazz yang di lantunkan dari stage ke stage dalam suasana alami Ubud nan eksotis.



Ada beberapa hal yang iMom highlight di event Ubud Village Jazz Festifal ini :

  • Venue ditata artistik dengan mengedepankan unsur lokal bertema pedesaan. Berbeda dengan event jazz yang pernah iMom datangi yaitu Jazz Traffic di Surabaya, jazz Tangerang yang mengambil lokasi di mall dan Java Jazz Festival di bangunan untuk penyelenggaraan expo. Tentu atmosfir yang tercipta akan terasa berbeda. 


  • Yang mendekati atmosfir dan ambience romantis dan lebih intim ya Makassar Jazz Festival yang sejak tahun pertama di helat sampai tahun imi mencapai tahun ke delapan yang selalu bertempat di Fort Rotterdam yang kental dengan muatan sejarah dan budaya. Lokasinya juga unik, di dalam kota dengan view pantai dilihat dari ketinggian tembok batu tebal yang sarat kisah perjuangan.  Seandainya, ini seandainya saja yaa, jika Om Brewok mau mempercayakan iMom ikut menata venue menjadi lebih artistik yaa. Untuk pembagian kerja kami memang menarik garis lurus dengan tidak saling mencampuri urusan pekerjaan, tapi saling support.

  • Prambanan Jazz oke juga, kemarin kami berniat lanjut ke Jogja tapi yah begitulah telpon si Om sudah krang-kring bunyinya karena sudah lama meninggalkan pekerjaan. Next time.
  • dan penontonnya.  Ya, penonton Ubud Village Jazz Festival keliatan  berbeda dibanding penonton beberapa event jazz yang pernah iMom datangi. Selain karena datang dari berbeda bangsa dan budaya yang membuat mereka keliatan lebih enjoy dan ekspresif menikmati komposisi yang disuguhkan di atas stage, juga karena  keliatan berbeda dengan penonton orang Indonesia, maksudnya umumnya orang kita yang fokusnya tidak ke musik.                                            Lebih sibuk dengan diri sendiri dengan asyik selfie dan dan bersikap ala vlog yang tidak menyadari bahwa tidak semua orang suka jika terikut dalam frame video yang sedang di rekam. Alih-alih menikmati komposisi malah menonton dari layar handphone padahal pertunjukan yang sebenarnya ada di depan mata. Kan sayang jika sudah meluangkan waktu, atau seperti kami lah yang datang dengan usaha dan biaya yang tidak sedikit seperti membeli tiket pesawat, hotel, transportasi, juga membeli tiket masuk dan apalagi jika ada special show dalam event jazz nya. Email, WA, Line, sosmed, semua bisa menunggu setelah komposisi musik selesai dimainkan. Mau foto-foto, selfie dan sekedar live video di IG juga its oke, tapi jangan sampai melewatkan moment.
  • Menonton pertunjukan musik itu sensasinya beda dengan sekedar mendengar di radio atau nonton di Youtube, apalagi jika berjumpa dengan artis idola tanpa atribut keartisannya.  
  • cobalah nikmati suasana,keberadaan, kehadiran, nada komposisi,karena mendengar di radio dan di youtube berbeda dengan bertemu langsung.     Buat iMom pribadi, saat kita dibuat terhayut oleh komposisi yang dihadirkan, tertelan dalam keramaian yang menyenangkan itulah salah satu 'aha moment', yang bikin kita happy seperti menikmati me time. Perasaan fresh di akhir konser.
  • Semoga apresiasi bermusik kita akan semakin tinggi. Seiring dengan tingginya apresiasi pada penyelenggara event, para sponsor acara, suplier venue, stage dan sound system, para artis yang sudah berkeringat menyuguhkan penampilan yang menghibur, dan terlebih pada diri sendiri sebagai pribadi yang ingin dipuaskan dari hiburan yang berkualitas.  Semoga.


Malam semakin larut dan kami juga semakin ngantuk dan kelelahan karena datang dengan flight pagi dari Makassar. Dengan pertimbangan mesti nyetir jauh ke Denpasar di tengah Ubud yang gulita ditambah GPS Maps yang kadang naik turun, jadi kami bergegas pulang sebelum event hari pertama ini selesai. 
Nanti saja di postingan berikutnya iMom cerita gimana kami menemukan jalan pulang dari tersesat di Ubud yang senyap, apa yang menuntun kami sepanjang jalan dan kemudian tersesat kembali sampai ke ujung Denpasar. 

Tapi tentu, tak akan mengurangi semangat kami untuk datang kembali menikmati suguhan musik, di Ubud nan eksotis ataupun nanti di venue lain ber style urban city yang hips.


Salam Kreatif,
Be Happy, Be You.









You Might Also Like

8 komentar

  1. wah mupeng ya Kak nonton langsung disana, secara acara2 beginian selalu seru, terlebih desainnya ya ampun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bisa ketemu langsung pemusik idola memang menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan.

      Hapus
  2. Mbak keren sekali foto-fotonya. jadi pengen banget ke Bali ini ^.^
    sepertinya acaranya seru banget ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. acaranya lebih keren lagiii...iya, tahun depan ada lagi koq acaranya. silahkan datang.

      Hapus
  3. keren ya, bali gitu banyak seniman kreatifnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di Bali memang tempat berkumpul para talenta kreatif dari seluruh dunia.

      Hapus
  4. Bagus-bagus desainnya, natural seperti alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. disesuaikan dengan lokasi venuenya kaan. apalagi di Bali.

      Hapus

Subscribe